*Ingin Kenalkan Tradisi Nyethe Sampai Internasional

Tulungagung, koranmemo.co – Bagi sebagian masyarakat, ampas kopi dianggap sebagai hal yang tidak penting. Tidak banyak masyarakat yang memanfaatkan ampas kopi atau bahkan membuatnya sebagai karya seni. Tapi di tangan para orang kreatif, ampas kopi ini bisa menjadi karya bernilai seni tinggi.

Di Kabupaten Tulungagung, ampas kopi sering kali dimanfaatkan oleh masyarakat pecinta kopi dengan dibalurkan pada sebatang rokok (nyethe).
Itu karena ampas kopi tersebut bisa menambah cita rasa rokok itu sendiri saat sedang dihisap. Namun siapa sangka, dari yang semula hanya sebatas pelengkap rokok, justru tradisi nyethe di Tulungagung semakin berkembang dengan mulai dibuatnya karya seni melalui media cethe (ampas kopi). 

Seperti dilansir koranmemo.com, hal itulah yang dilakukan oleh seorang pria asal Desa Boyolangu, Kecamatan Boyolangu yakni Johan. Perjalanan pria 37 tahun itu dalam berkarya dibidang cethe sudah dimulainya sejak duduk di masa SMA. 

Kala itu, di tahun 2003 silam, tradisi nyethe memang sudah berkembang di Kabupaten Tulungagung dengan basis terbesar saat itu berada di warung kopi di Desa Bolorejo, Kecamatan Kauman. 

Hanya saja saat itu, tradisi nyete masih terbilang sangat konvensional yang mana pelakunya sendiri hanya membalurkan cethe pada sebatang rokok dengan asal-asalan, sehingga jika dilihat seperti batang rokok dengan coretan ampas kopi. 

Di situ Johan muda merasa jika tradisi nyethe konvensional tersebut tidak menunjukkan nilai estetika. Hal itu membuat dia mencoba untuk menggabungkan karya seni lukis dengan tradisi nyethe

“Dulu nyethe itu masih kayak di balurkan asal-asalan atau bahkan berbentuk blok, karena memang tujuannya cuma menambah cita rasa rokok,” kata Johan, Selasa (1/3).

Dikarenakan Johan sendiri memiliki jiwa seni yang sangat tinggi, akhirnya saat itu dia mulai mencoba melukis hingga membatik sebatang rokok miliknya dengan menggunakan cethe

Namun, upayanya itu tentu tidak mudah, karena harus menggambar ataupun membatik dengan media rokok yang terbilang sangat kecil. 

Bahkan kegagalan sering kali dirasakannya saat itu hingga akhirnya dia memutuskan untuk tidak meneruskan upayanya itu. Hingga akhirnya setelah dia lulus SMA, dia mulai menekuni seni lukis. 

Saat itu, Johan sering kali melukis dengan media tembok, bahkan tidak jarang dia mendapat job untuk melukis pada tembok-tembok cafe di Tulungagung. 

Dikarenakan dia mendalami seni luki, akhirnya hasrat Johan untuk kembali melukis pada batang rokok dengan menggunakan cethe pun kembali. 

Hingga akhirnya dengan upaya dan kerja kerasnya, dia berhasil memadukan karya seni lukis dengan menggunakan cethe dengan media sebatang rokok. 

“Menggambar ataupun melukis pada tembok dan batang rokok tentunya berbeda, karena dimensi keduanya tidak sama, sehingga pasti ada kesulitan saat melakukannya,” ujarnya.

Johan mengungkapkan, melukis dengan media tembok sebenarnya terbilang mudah, karena dengan media yang luas. 

Dia hanya perlu mengatur posisi gambar agar terlihat presisi, meski sebenarnya hal itu tentunya tidak mudah. Namun melukis dengan media rokok menggunakan cethe justru terbilang cukup sulit. 

Bahkan tidak jarang pelukis handal sekalipun akan gagal saat pertama kali mencoba melukis dengan media rokok menggunakan cethe. Pasalnya, komposisi mulai dari kekentalan cethe harus benar-benar diperhatikan. 

Mengingat media yang digunakan sangat kecil dengan bentuk bundar dan juga kertas rokok yang terbilang tipis, sehingga jika komposisi cethe tidak diperhatikan dengan benar. 

Maka karya lukis pada sebatang rokok akan gagal hanya karena rokok tersebut patah. 

Cethe itukan ampas kopi, yang mana di dalamnya juga terdapat kandungan air, jadi kalau itu tidak diperhatikan, jelas rokok akan patah karena terlalu basah, dan itu gagal. Untuk durasi yang ideal itu satu jam pembuatan mulai awal hingga finishing,” ungkapnya.

Saat ini, tradisi nyethe di Tulungagung sudah mulai maju dengan banyaknya seniman cethe yang mulai muncul di Tulungagung. 

Bahkan tidak jarang event-event seperti lomba cethe pun digelar baik oleh individu maupun yang digelar oleh pemerintah. Atas kecintaannya terhadap seni lukis cethe, Johan sendiri rupanya tidak pernah absen untuk mengikuti event-event perlombaan tersebut. 

Bahkan dia sendiri pernah mengikuti lomba cethe yang digelar di Kota Malang dan berhasil menyabet gelar juara. 

Selain itu, dia mengaku beberapa waktu terakhir juga baru saja mengikuti event nyethe yang digelar oleh Gus Muhaimin Iskandar yang mana dia sendiri juga berhasil menyabet gelar juara di event tersebut. 

Melihat semakin maju dan dikenalnya tradisi nyethe ini, tentunya membuat dia mengharapakan agar tradisi nyethe ini bisa dikenal secara nasional bahkan hingga internasional. 

Melalui event-event nyethe juga diharapkan agar tradisi ini terus maju hingga berada pada titik puncaknya, sehingga tradisi ini tetap eksis di seluruh generasi. 

“Nyethe memang sudah menjadi ciri khas masyarakat Tulungagung. Tentunya kami memiliki keinginan agar masyarakat luar juga mengenal tradisi ini,” pungkasnya.

Sumber : koranmemo.com