*Berprestasi Sejak Cilik, Sering Hadapi Musuh yang Lebih Tua saat Kompetisi

Koranmemo.co – Muhammad Aldiano Satriagung saat ini masih berusia 14 tahun. Anak bungsu dari tiga bersaudara ini secara usia memang masih cilik, namun telah memiliki segudang prestasi pada bidang aeromodelling. Ia juga merupakan atlet aeromodelling termuda di Kabupaten Kediri.

Dilansir dari koranmemo.com, ketertarikannya terhadap dunia aeromodelling ini berawal saat ia masih duduk di bangku kelas 4 SD. Bakatnya pada aeromodelling ditemukan oleh salah satu kerabat orangtuanya yang saat itu berkunjung ke rumahnya.

“Awalnya nggak pernah terpikirkan untuk jadi atlet aeromodelling,” ujar remaja yang biasa di sapa Satria ini.

Melihat perawakannya yang atletis, kerabat orangtuanya yang juga merupakan pelatih aeromodelling itu langsung menyarankan agar Satria ikut berlatih Aeromodelling. Tubuh yang atletis itu ia peroleh dari kesenangannya melakukan kegiatan fisik, seperti bermain sepak bola.

Setelah diajak berlatih beberapa kali, putra dari M. Muhsin dan Sumiatun yang saat ini bersekolah di SMPN 1 Kota Kediri kemudian langsung diikutkan lomba pada kejuaraan provinsi. Bahkan kemudian di tingkat nasional.

“Saat itu baru 10 tahun,” ujarnya dengan malu-malu.

Pada lomba pertamanya, ia masuk pada kelas yang kebanyakan diisi oleh peserta dengan usia beberapa tahun yang lebih tua dari dirinya. Menjadi peserta termuda, membuat pelatih dan orangtuanya tidak menaruh target yang tinggi.

Meski begitu, Satria tidak gentar menghadapi lawan-lawan yang secara usia, fisik, dan pengalaman ada di atasnya. Ketenaganan dan kepercayaan dirinya pada lomba aeromodelling yang digelar di Lanud Iswahyudi, Madiun itu, berhasil membawanya meraih juara dua. Piagam dan medali perak berhasil ia bawa pulang.

Kemampuannya menerbangkan replika pesawat di usia yang masih anak-anak itu membuat Satria sempat dikagumi oleh peserta dan pelatih lain. Pesawat yang ia terbangkan juga relative besar yaitu berukuran sekitar 2 meter.

“Saya saat itu masih kelas 4 SD. Lawan saya waktu itu sudah SMP dan SMA,” ujarnya sambil tersenyum.

Sejak lomba pertamanya itu, ia kembali mengikuti kompetisi-kompetisi lain, sedikitnya ada tiga medali yang sudah dikantongi Satria. Selain medali perak dari lomba aeromodelling di Lanud Iswahyudi, di tempat yang sama pada 2018 silam dia meraih medali perunggu. Selanjutnya, di Kejurnas Aeromodelling di Gunungkidul Jogjakarta dia berhasil meraih medali perunggu.

Pandemi Covid-19 yang telah berlangsung selama 2 tahun ini telah membuat kejuaraan aeromodelling terhenti untuk sementara waktu. Tidak ada kompetisi bukan berarti tidak berlatih, ia tetap berlatih aeromodelling untuk mempertajam kemampuannya.

Biasanya, ia berlatih di dekat petilasan Sri Aji Joyoboyo dan kebun di Kunjang. Untuk berlatih memang diperlukan tempat yang luas, sehingga bisa leluasa dalam menerbangkan replika pesawat tersebut.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menerbangkan pesawat ini, yaitu kemampuan membaca arah angin, cuaca, dan ketepatan saat menerbangkan. Ia mengatakan, jika sampai salah perhitungan bisa menyebabkan kerusakan yang fatal pada pesawat.

Pesawat yang digunakan juga tidak sembarangan, ada pesawat yang dibuat khusus untuk olahraga aeromodelling ini. Harganya juga tidak murah, untuk ukuran yang besar bisa mencapai jutaan rupiah. Untuk pesawat yang rusak juga ada tempat khusus untuk memperbaikinya.

Lebih lanjut, untuk agenda terdekat, ia termasuk salah satu atlet aeromodelling yang ditunjuk untuk mewakili Kabupaten Kediri pada Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jatim pada bulan Juni nanti. Ia berharap, keikutsertaannya pada porprov mendatang dapat menorehkan prestasi bagi Kabupaten Kediri.