KORANMEMO.CO -Keberadaan makanan kadaluarsa seringkali menjadi topik yang menimbulkan kebingungan dan kekhawatiran di kalangan masyarakat.
Di satu sisi, kita ingin memastikan bahwa kita tidak mengkonsumsi sesuatu yang berpotensi berbahaya, salah satunya seperti makanan kadaluarsa. Namun disisi lain, kita juga ingin mengurangi pemborosan makanan.
Artikel ini akan mengulas beberapa mitos dan fakta tentang makanan kadaluarsa serta implikasinya bagi kesehatan tubuh.
Berikut adalah beberapa mitos dan fakta mengenai makanan kadaluarsa bagi kesehatan tubuh yang beredar di masyarakat :
Mitos 1: Tanggal Kadaluarsa dan “Best Before” Itu Sama
Fakta: Tanggal kadaluarsa dan “best before” memiliki makna yang berbeda. Tanggal kadaluarsa menunjukkan batas waktu di mana makanan masih aman dikonsumsi. Setelah tanggal tersebut, resiko bahaya kesehatan meningkat.
Sebaliknya, “best before” adalah indikasi kualitas. Makanan mungkin masih aman dikonsumsi setelah tanggal “best before”, tetapi kualitasnya mungkin telah menurun, seperti tekstur atau rasa.
Mitos 2: Makanan Langsung Berbahaya Setelah Melewati Tanggal Kadaluarsa
Fakta: Tidak semua makanan langsung menjadi berbahaya tepat setelah tanggal kadaluarsa.
Misalnya, makanan kering seperti pasta atau beras seringkali masih aman dikonsumsi beberapa waktu setelah tanggal kadaluarsa asal disimpan dengan baik.
Namun, produk susu, daging, dan makanan siap saji harus lebih diperhatikan karena risiko kontaminasi bakteri yang lebih tinggi.
Mitos 3: Makanan Kaleng Tidak Pernah Kadaluarsa
Fakta: Meskipun makanan kaleng memiliki masa simpan yang panjang, mereka tetap memiliki tanggal kadaluarsa.
Kualitas makanan kaleng dapat menurun seiring waktu, dan penyok atau kerusakan pada kaleng bisa menyebabkan kontaminasi bakteri.
Pastikan untuk memeriksa kondisi fisik kaleng dan tanggal kadaluarsa sebelum mengkonsumsinya.
Mitos 4: Mencium atau Melihat Makanan Sudah Cukup untuk Mengetahui Keamanannya
Fakta: Tidak semua bahaya makanan dapat dideteksi dengan penciuman atau penglihatan.
Beberapa bakteri patogen tidak menyebabkan perubahan yang dapat dideteksi secara sensorik pada makanan.
Oleh karena itu, penting untuk memperhatikan tanggal kadaluarsa dan praktek penyimpanan yang baik.
Mitos 5: Membekukan Makanan Bisa Menghilangkan Bakteri
Fakta: Membekukan makanan tidak membunuh bakteri, tetapi hanya menghentikan pertumbuhan mereka. Bakteri dapat kembali aktif ketika makanan dicairkan.
Oleh karena itu, meskipun membekukan makanan dapat memperpanjang masa simpan, makanan yang sudah kadaluarsa atau terkontaminasi tetap tidak aman untuk dikonsumsi setelah dicairkan.
Mengonsumsi makanan yang sudah kadaluarsa atau tidak disimpan dengan baik dapat menyebabkan keracunan makanan.
Gejala umum dari keracunan makanan termasuk mual, muntah, diare, dan sakit perut.
Dalam kasus yang parah, keracunan makanan dapat menyebabkan dehidrasi, kerusakan organ, dan bahkan kematian.
Beberapa bakteri berbahaya yang sering ditemukan dalam makanan yang telah kadaluarsa termasuk Salmonella, E. coli, dan Listeria.
Infeksi dari bakteri ini bisa sangat serius, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan individu dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah.
Meskipun ada banyak mitos seputar makanan kadaluarsa, penting untuk memahami fakta sebenarnya untuk menjaga kesehatan tubuh.
Selalu perhatikan tanggal kadaluarsa dan tanda-tanda kerusakan pada makanan. Jangan ragu untuk membuang makanan kadaluarsa yang meragukan demi keamanan.
Mengadopsi praktik penyimpanan yang baik dan memahami perbedaan antara tanggal kadaluarsa dan “best before” dapat membantu mengurangi risiko kesehatan dan pemborosan makanan.